
Pada tanggal 16 Januari 2026, umat Islam di seluruh penjuru dunia memperingati Isra Miraj 1447 H. Ini adalah momen di mana kita kembali menoleh pada sejarah besar perjalanan malam Rasulullah SAW, sebuah peristiwa yang melampaui logika ruang dan waktu. Namun, lebih dari sekadar mengenang mukjizat, peringatan kali ini mengajak kita untuk menggali lebih dalam: bagaimana perintah shalat yang dibawa Nabi tidak berhenti di atas sajadah, melainkan menjelma menjadi aksi nyata dalam kehidupan.
Kapan dan Kenapa Peristiwa Ini Terjadi?
Isra Miraj diperingati setiap 27 Rajab. Perjalanan ini merupakan bentuk penghiburan ilahi (tasliyah) dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW setelah melewati tahun kesedihan (Amul Huzni). Di titik inilah, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Perintah shalat yang turun langsung tanpa perantara malaikat ini menunjukkan betapa krusialnya ibadah ini. Shalat diturunkan sebagai solusi spiritual atas beratnya beban dakwah dan ujian hidup yang dialami Nabi.
Shalat: Antara Ritual dan Aktual
Dalam memaknai Isra Miraj 1447 H, kita harus menyadari bahwa shalat lima waktu bukan sekadar ritual gerak tubuh dan lisan yang dilakukan lima kali sehari. Shalat memiliki dimensi aktualisasi yang sangat kuat. Secara ritual, kita menghadap kiblat dan memutuskan hubungan sejenak dengan dunia. Namun secara aktual, buah dari shalat tersebut harus terpancar dalam hubungan kita dengan sesama manusia.
Allah SWT berfirman bahwa shalat yang benar adalah yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, shalat memiliki fungsi kontrol sosial. Seseorang yang shalatnya “hidup” akan memiliki kepekaan nurani; ia tidak akan tega melihat tetangganya kelaparan, ia tidak akan membiarkan anak yatim telantar, dan ia akan menjadi garda terdepan dalam menebar kemaslahatan. Shalat yang aktual adalah shalat yang menggerakkan tangan pelakunya untuk membantu, menggerakkan kakinya untuk mendatangi mereka yang kesulitan, dan membuka hatinya untuk berbagi.
Bagaimana Muslim Memaknai dan Menghubungkannya dengan PABU?
Bagaimana kita menarik benang merah antara perjalanan Miraj Nabi dengan kehidupan kita saat ini? Jika Miraj adalah perjalanan menjemput perintah kebaikan, maka PABU (Pundi Amal Bakti Ummat) adalah wadah untuk membumikan perintah tersebut.
Program-program di PABU, mulai dari santunan yatim piatu, pemberdayaan ekonomi dhuafa, hingga bantuan kemanusiaan, merupakan bentuk aktualisasi shalat kita. Kita tidak bisa mengatakan shalat kita khusyuk jika kita menutup mata terhadap kemiskinan di sekitar kita. PABU hadir memfasilitasi setiap muslim untuk mengubah energi spiritual hasil shalat menjadi energi sosial yang berdampak luas.
Memperingati Isra Miraj di tahun 2026 ini bukan lagi soal seremonial semata. Ini adalah soal pembuktian iman. Dengan mendukung program PABU, kita sedang mempraktikkan “Miraj” versi kita sendiri—yaitu mengangkat derajat kemanusiaan dan membantu sesama naik dari keterpurukan.
Penutup
Mari jadikan momentum 16 Januari 2026 ini sebagai tonggak transformasi. Mari kita perbaiki kualitas shalat kita: jadikan ia ritual yang khusyuk dan aktualisasi yang nyata. Biarkan shalat kita membimbing kita menuju pintu-pintu kebaikan melalui PABU, sehingga keberkahan Isra Miraj tidak hanya berhenti di langit, tapi benar-benar terasa di bumi.faat bagi umat.
PABU|2026